Maret 14th, 2009 — demokrasi, media, politik Tagged amerika, ampera, budaya, hillary, jurnalistik, pemilu, pendidikan, politik, televisi
Kita tidak terkejut dengan data 5.800 dari 7.400 cagar budaya kurang terawat (Kompas, 12/3). Pemerintah konon kurang dana untuk merawat. Cagar budaya (baca: peradaban fisik sebagai hasil kebudayaan dalam arti kata benda) rusak, lapuk, atau hilang belum kita tempatkan sebagai persoalan serius. Akar masalahnya terletak pada mindset kita. Kita telanjur menempatkan masa lalu hanya residu masa kini. (Kompas, Sabtu 14/3)
Candi Prambanan dan Borobudur telah tercoret dari daftar Warisan Budaya Dunia. Membangun Pusat Informasi Majapahit dengan merusak situs. Tak ada kata lain yang mampu menggambarkan tentang hal ini selain: “ABSURD!”
Lihatlah program-program partai peserta Pemilu. Adakah yang mengedepankan kebudayaan sebagai kekayaan bangsa ini? Kalaupun ada, sebatas retorika politik semata sebagaimana “jualan” tentang ekonomi kerakyatan. Orang-orang yang “katanya” pinter-pinter itu selalu mengedepankan kekuasaan daripada membangun bangsa dan negara.
Siapapun yang kita lihat di media massa maupun esok ketika masa kampanye tiba, selalu mengatakan, “Kalau saya/partai terpilih/menang, akan ….” Bagaimana ia akan mendapat amanat dari rakyat bila ia tidak amanah?
Saya tidak melihat adanya calon pemimpin ataupun partai yang amanah. Tak satupun yang melaksanakan program-program kerakyatan secara mandiri. Para pemenang Kalpataru maupun Eagle Award dan sejenisnya melakukan program-program konkret bagi rakyat tanpa kekuasaan dan modal finansial yang kuat. Lha, membuat MCK terpadu -di ibukota negara pula- saja harus didanai Amerika dan diresmikan Menlu Hillary Clinton. Betapa tak tahu malunya pejabat pemerintah kita.
Ini kan menunjukkan bahwa masyarakat kita tak mau peduli pada orang lain. Egois. Sibuk cari duit buat perut sendiri. Dari sekian banyak anggaran Pemda DKI (minimal 1 milyar rupiah perkelurahan ditambah lebih kurang 1 milyar dana PPMK perkelurahan) apakah tak mampu membuat MCK? Lho, ini ngomong apa kok ke MCK segala? Lha inilah BUDAYA kita sekarang. Ketidak-acuhan vs gotong royong, berorientasi pada hasil vs orientasi pada proses, egois vs peduli sesama, kekuasaan vs kemaslahatan.
Weleh weleh … Celaka duabelas. Peringatan Allah berupa tsunami dan bencana alam lain semisal gempa, banjir, lumpur panas, gunung meletus, topan, bumi merekah -semua terjadi hampir tiap hari di depan mata, di wilayah NKRI, kok ya tidak membuat para (calon) pemimpin bangsa ini sadar.
Kita ini bangsa yang amnesia. Lupa kacang pada kulitnya. Dulu tanah kita ini adalah tanah surga (Koes Plus), kini jadi tanah jahannam. Tanah neraka di mana penghuninya berteriak memikirkan nasibnya masing-masing.
Seorang pengendara BMW keluaran terbaru yang terjebak macet di jalur lambat Jl. Sudirman, Jakarta, berteriak melalui jendela, “Kalau mau bersepeda di Senayan saja, jangan menutup jalan”. Padahal hari Minggu, 22 Februari itu adalah Hari Bebas Kendaraan Bermotor. Mau kita apakan orang seperti ini? Hukum macam apa yang bisa menindak sikap arogan begini?
Apakah kita cukup bersabar menghadapi situasi seperti ini? Apakah kita mau kembali dijajah 350 tahun plus 3,5 tahun seperti dulu? Bukan kita tak mampu hadapi musuh, melainkan kita tidak mau peduli pada orang lain. Kita baru bereaksi jika diri kita yang terkena. Meski tetangga kita menderita, yang penting bersyukur bahwa hal itu tidak menimpa diri kita sendiri. Na’udzubillah. Tsumma na’udzubillah.
Demi demokrasi yang diinginkan oleh Amerika dan sekutunya, trilyunan rupiah dihamburkan sementara rakyat tetap jadi penonton. Menunggu recehan yang terlempar. Dalam situasi yang DICIPTAKAN demikian menekan ini, maka rakyat akan didorong untuk saling bersikutan memperebutkan remah-remah yang tak berarti. Lihatlah pembagian zakat, Imlek, dll. demi beberapa ribu rupiah rakyat kita harus menebusnya dengan nyawa. Ibu=ibu bahkan tega menggendong anaknya yang masih kecil demi mendapatkan keleluasaan dalam antrian, tanpa peduli resiko.
Rakyat sudah gelap mata. Air selokan di rumah Ponari pun mereka minum demi pengobatan yang murah. Demi cinta monyet, para ABG rela mempermalukan diri di depan kamera televisi. Juga demi bertemu sekejap dengan selebritas idola, rela berbuat apapun.
Siapakah yang mengambil untung dari itu semua/ Industri media. Ya. Termasuk pers. Merekalah yang menangguk untung dari iklan yang masuk.
Merdeka!!!
Ampera!!!
copyleft umar syaifullah 2009
Maret 14th, 2009 — politik Tagged capres, pemilu, politik, sby
Kompas hari ini menulis, “Nyeri lambung yang diderita Presiden Susilo Bambang Yudhoyono disebabkan gangguan pencernaan karena tingginya asam lambung. Kondisi ini bisa terjadi karena pola makan tidak teratur, kelelahan, dan stres.”
jam 14:46 tanggal 27 Februari 2009, saya tulis di Pesbuknya SBY:
“anak nyamuk dalam padi
cuka di dalam perberasan
sungguh pun berkecamuk di dalam hati
asal di muka jangan kelihatan”
(pantun dari KH. Mohammad Muchtar Husien buat SBY, 20022009)
Menjelang pemilu gak usang tegang paklik. kata Qur’an sih, dunia ini cuma permainan dan kesenangan sesaat. nah mengapa anak nyamuk? silakan baca QS. 2:26. Btw hati-hati sama tim sukses.
ps. lha wong diingatkan kok gak mau. atau adminnya yang gak mau ngasi tau si bos?
It’s All the President’s Men, y’know.
Merdeka!
Ampera!
copyleft umar syaifullah 2009
Februari 27th, 2009 — demokrasi, politik Tagged budaya, capres, Deddy mizwar, film, politik
Inna lilLaahi wa inna ilaihi rooji’uun.
Mau jadi apa republik ini? Saya tidak akan banyak komentar.
Dalam karya-karyanya seperti Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat, Para Pencari Tuhan, adakah dia menyebutkan sumber/ide ceritanya dalam credit title? Bagaimana orang yang tidak dapat menghargai hak orang lain dapat diharapkan memimpin bangsa ini? Bagaimana orang yang mendahulukan sunnah daripada yang wajib ketika beramai-ramai memberangkatkan artis-artisnya umroh bukannya haji. Ngerti yang namanya wajib nggak sih, Ji? Perintah Allah!
Kalau mau berjuang untuk bangsa ini, teruslah berkarya di medanmu sendiri: FILM, Budaya. Bukankah RasululLah mengatakan, “bekerjalah dengan bakatmu”?. “Serahkan suatu pekerjaan pada ahlinya”, “jika tidak tunggu saja datangnya azab Allah”.
Merdeka!
Ampera!
copy left umar syaifullah 2009
Februari 17th, 2009 — bbm, demokrasi, global, politik Tagged amerika, Asia Foundation, hillary, imperialisme, joe biden, kapitalisme, obama, pendidikan, PLAN, politik, sosialisme
Besok Hillary Rodham Clinton selaku Menteri Luar negeri amerika Serikat yang baru di bawah pemerintahan Barrack Obama akan menginjakkan kaki di bumi Indonesia. Sebuah sejarah baru bahwa Indonesia masuk daftar kunjungan luarnegeri petinggi AS segera setelah dilantik. Apa arti semua ini?
Kompas edisi Minggu (15/2) mengutip Hillary yang mengatakan, Asia memiliki kesempatan besar. Secara ekonomi, Asia memiliki Jepang, China, India, dan beberapa negara di Asia lainnya yang berkembang secara ekonomi. Di saat dunia sedang hiruk pikuk oleh kekacauan ekonomi, Asia berada dalam posisi yang lebih baik. Ini adalah sebuah kesempatan bagi AS dengan mengharapkan ekonomi Asia sebagai <em>bumper</em> ekonomi AS. Adapun Joe Biden di Munich, Jerman, pekan lalu mengatakan bahwa kebijakan luarnegeri AS harus dilengkapi dengan pendekatan sosial, budaya, dan tentu kekuatan sebagai pilihan akhir.
Dari kutipan di atas jelaslah misi yang dibawa oleh utusan Obama ke Jakarta besok. Dalam pada itu, Asia Foundation meluncurkan buku America’s Role in Asia pada hari Senin (16/2) kemarin di CSIS. Perlu kita simak juga nanti tentang Asia Foundation. Nah mumpung Sofyan Wanandi selaku Wakil Ketua Dewan Penyantun Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menengarai bahwa agaknya pemerintah RI belum tergerak untuk memformulasikan keinginannya terhadap pendekatan AS ini, maka mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi masukan.
Dari situs ini didapat keterangan bahwa The Asia Foundation adalah organisasi nirlaba, non pemerintah, yang bekerja untuk meningkatkan kerjasama di kawasan Asia Pasifik. The Asia Foundation didanai oleh kontribusi dari beberapa perusahaan, yayasan, perorangan dan organisasi pemerintah di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia-Pasifik. Melalui program-programnya, The Asia Foundation membangun kepemimpinan, meningkatkan kualitas kebijakan dalam rangka mendorong peningkatan keterbukaan dan kesejahteraan bersama di kawasan Asia Pasifik. The Asia Foundation memulai programnya di Indonesia pada awal tahun 1955. Program yang utama adalah mendukung berbagai LSM dalam upaya untuk memperkuat basis dan hak-hak politik rakyat sebagai landasan untuk meningkatkan partisipasi mereka. Beberapa contoh kegiatan yang telah dibantu adalah:
1. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam agenda politik nasional dalam perspektif penguatan masyarakat sipil dan hak-hak asasi manusia. Termasuk di dalamnya partisipasi perempuan.
2. Pemberdayaan usaha kecil dan menengah dengan menciptakan iklim kebijakan pemerintah yang lebih kondusif
3. Pengembangan mekanisme penyelesaian konflik dalam masyarakat, antara lain melalui lembaga arbitrase
Beberapa tahun lalu Hermawan Sulistyo pernah melakukan penelitian tentang kyai NU dan demokratisasi yang dibiayai oleh Asia Foundation. Hasilnya adalah peta yang nyaris telanjang memotret keberadaan kyai dan pesantren NU di sebagian besar wilayah Indonesia. Saya tidak heran jika kemudian terjadi banyak peristiwa yang ujungnya adalah delegitimasi kedudukan kyai dan pesantren. Contoh kecilnya ya kasus Syekh Puji, fatwa-fatwa MUI, film Perempuan berkalung Sorban, dlsb.
Kembali pada persoalan mengapa Indonesia menjadi penting bagi Amerika. Jepang, Korea, Cina, memang sudah jelas punya peran penting di Asia, khususnya di sektor ekonomi. Tapi Indonesia? Dalam hemat saya AS kini harus memperkuat pengaruhnya di bidang politik atas kawasan Asia Tenggara karena melihat ancaman dari China dan bangkitnya sosialisme di Amerika Latin semisal Venezuela, Kolombia dan Kuba. Kita ingat di awal kemerdekaan, Indonesia merupakan ladang rebutan antara kubu imperialis kapitalis Amerika dan kubu sosialisme baik Soviet maupun China.
Maka pemerintah RI harus waspada atas upaya “pendekatan” AS melalui ekonomi, sosial, budaya, dan tentunya kekuatan sebagai pilihan akhir sebagaimana dikemukakan oleh Biden di awal tulisan ini. Presiden SBY harus berhati-hati, ekstra hati-hati, agar jangan sampai masa depan bangsa ini di masa depan tergadaikan oleh All The President’s Men alias orang-orang di sekitarnya sendiri. Jika SBY mau menengok kembali bekal awal yang diberikan oleh rakyat yaitu menjaga negara dan bangsa melalui budaya, insya Allah ia akan bisa lalui dengan baik.
Di sisi lain sektor pendidikan juga harus diwaspadai. Apa yang sedang terjadi dalam pembangunan kebijakan pendidikan nasional ini direncanakan akan terhubung secara online dengan Amerika. Hal ini sesuai dengan program Obama juga yang akan memasang jaringan internet seluruh sekolah di Amerika.
Organisasi “kemanusiaan” internasional PLAN yang beroperasi di Indonesia sejak 1969 menyelenggarakan School Link Project (Kompas, 13/2) yang melibatkan 1000 pelajar dari 100 sekolah menengah atas di 13 negara. Meski dikatakan jaringan ini untuk mendiskusikan dan bertindak menghadapi perubahan iklim, namun bagi yang memahami internet dan sistem informasi akan jelas bahwa ini merupakan road mapping bagi rencana politik yang lebih besar.
Tiba-tiba saya teringat mpok Ani dan bang Madi di RRI tahun 1970-an.
“Merdeka!”
“Ampera!”
copyleft umarsyaifullah 2009
Februari 7th, 2009 — demokrasi, media Tagged anarkhis, jurnalistik, medan, televisi, teror
Untuk kesekian kali kita saksikan kebodohan bangsa kita sendiri. Indikasi akan terjadinya aksi anarkis dalam demonstrasi sudah lama terlihat. Aksi-aksi demo di depan gedung DPR/MPR RI, aksi-aksi mahasiswa di Makassar, hingga demo-demo pilkada terutama di Maluku Utara, dll, semestinya sudah lebih dari cukup untuk jadi pelajaran. Apakah harus menunggu ada pejabat yang tewas dulu baru jadi perhatian? Bodoh sekali.
Sekarang semua media menyoroti peristiwa anarki di Medan yang menewaskan Ketua DPRD setempat. Masing-masing media maupun pengamat berebut bicara untuk saling tunjuk hidung pihak lain. Tak ada satupun yang menunjuk hidung sendiri dan melakukan introspeksi. Saat ini polisi dituding tidak melakukan tindakan pencegahan, ada pula mantan aktivis yang menuding pemerintah yang tidak peduli pada suara rakyat, bahkan ada yang menyalahkan para pendemo. Tidak lupa juga Pilkada dituding jadi penyebab, begitu pula pemekaran daerah dan otonomi daerah. Lebih fatalis lagi yang menyebut rakyat Indonesia belum siap untuk berdemokrasi.
Karena yang menyiarkan semua ini adalah media massa, lalu adakah yang menuding media massa (baca: televisi) yang punya andil terjadinya anarki di mana-mana? Bukankah ada etika untuk tidak menyiarkan materi yang dapat menjadi preseden buruk alias menjadi contoh bagi pemirsa? Semisal adalah tayangan kriminal baik reportase maupun film fiksi, ada aturan untuk tidak menunjukkan secara jelas proses kejahatan seperti cara mencuri, membunuh, dlsb. Meski mutilasi sudah terjadi sejak lama, namun begitu pemberitaan tentang Ryan memperoleh “rating” tertinggi, berturut-turut terjadi peristiwa serupa. Salah seorang pelaku juga mengakui terinspirasi dari pemberitaan tentang Ryan.
Dalam era globalisasi sekarang, media massa bertarung untuk meraih pemirsa terbanyak. Rating adalah pintu masuk bagi iklan. Maka berlomba-lombalah televisi untuk jadi yang tercepat dan ter”eksklusif” penayangannya. Eksklusivitas di sini artinya adalah “as hard, as violent, as bad, as it get”. Bukan hanya “bad news is good news”, tapi “hard news is good news” sekarang sedang “in”.
copyleft umar syaifullah 2009
Februari 6th, 2009 — pelayanan publik, politik Tagged ampera, kesantunan, lansia, panti, pemilu, televisi, tv 0ne
TV One menayangkan Suara Rakyat hari Rabu (4/2) dini hari pukul 01.00. Tayangan ini mengangkat bagaimana kehidupan kaum jompo khususnya yang berada di panti jompo, serta rendahnya perhatian pemerintah terhadap mereka. Padahal dalam pandangan TV One kaum sepuh ini punya potensi besar dalam menyumbang suara pada Pemilu mendatang.
Demi Allah, air mata saya berlinang. Seorang mantan pemulung yang terjaring operasi Tramtib kini justru merasa bersyukur hidup di panti jompo karena bisa hidup lebih layak dan mendapat perhatian dari pengurus panti. Lelaki renta yang giginya terlihat tinggal satu itu benar-benar menyentak perhatian saya. Di balik kerentaan tubuhnya serta latar belakangnya yang pemulung di sebuah stasiun kereta, ternyata ia cukup mengikuti perkembangan berita tentang negara ini. Ia menyayangkan terjadinya kelangkaan bahan bakar untuk rumah tangga seperti minyak tanah dan elpiji, juga maraknya demonstrasi dan bentrok di sana-sini. Korupsi para pejabat juga menjadi keprihatinannya. Namun semua keluhannya itu tidak membuatnya menghujat dan membenci atau bahkan dengan keras memaksakan pendapatnya.
Laki-laki renta bergigi satu yang mantan pemulung ini justru punya kesantunan dan budi bahasa yang tidak saya temukan di kalangan pemimpin kita. Ia semata menghimbau dengan sangat, sangat santun. Sulit saya menuangkannya di tulisan ini. Karena ada nuansa yang saya tak mampu gambarkan. Di balik keprihatinannya itu pun, dengan sangat lapang dada mengatakan bahwa siapapun yang akan terpilih nanti tidak masalah asalkan benar-benar mau memikirkan dan mengurusi rakyat. Undang Undang Dasar 1945 Pasal 34 ayat (1) jelas-jelas mengamantakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara leh negara. Ini adalah amanat pendiri negara, lebih lagi amanat penderitaan rakyat. Bukan amanat kekuasaan. Ya Allah, ampunkan kedurhakaan kami karena menelantarkan orang-orang tua kami. Bagi Anda blogwalkers, perbaikilah hubungan dengan orangtua Anda selagi sempat. Muliakan mereka yang menjadikan Anda mulia seperti sekarang. Kiamat sedang dipercepat. Jangan sia-siakan waktu Anda dengan mengejar duniawi. Berbuat baiklah. Atau tunggu saja kiamatmu!
copyleft umar syaifullah 2009
Februari 4th, 2009 — politik Tagged pemilu, perempuan
Rasanya tidak ada yang lebih absurd di dunia selain negeri ini. Di tanah yang “katanya” gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharjo, nyaris semua salah urus. Tata nilai dijungkir balik, logika bengkok dianggap lurus. Begitu pula soal afirmasi perempuan sebagai caleg.
Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Namun yang saya tangkap adalah bahwa sekumpulan orang yang punya kepentingan dengan kekuasaan atas tanah air mata ini masih tidak pro pada perempuan, apalagi pada kepentingan bangsa. Mereka sangat tahu persis bahwa perempuan sendiri masih belum siap untuk jadi anggota parlemen dan mengurusi rakyat, atau minimal mengurusi nasib kaum perempuan sendiri. Maka ide untuk mendorong peran perempuan lebih aktif lagi justru dibablaskan ke prosentase.
Ibarat mau ikut bertanding, belum cukup latihan, belum pemanasan, tiba-tiba dipaksa masuk garis start dan, “…doorrr”. Pistol ditembakkan.
Saya kurang jelas apakah para aktivis perempuan menyadari ini atau tidak. Jika kelak sejumlah perempuan yang tidak siap tadi jadi anggota parlemen dan kemudian ikut-ikutan berlaku absurd seperti di atas, maka masuk perangkap fait a compli –lah (bukan peta konflik, sebagai mana beberapa yang mengaku aktivis mahasiswa ’98 sering sebut) seluruh perempuan Indonesia ini. Yang akan terdengar adalah, “tuh. Khan. Gue bilang juga apa. Mending perempuan disuruh ngurus rumahtangga yang bener. Jangan dikit-dikit minta cerai, kayak di infotainment itu”.
Tentunya tidak dipungkiri bahwa beberapa di antara aktivis perempuan punya kemampuan yang lebih dari siap untuk jadi anggota parlemen. Tapi dalam prosentase sekian? Di sini yang mayoritas akan membunuh minoritas. Di republik ini belum ada organisasi perempuan yang sedemikian bagus dalam menetaskan pejuang-pejuang sekapasitas Dhita Indah Sari, Khofifah Indar Parawansa, Hj. Aisyah Amini, apalagi seperti para eks Gerwani (saya pernah baca wawancara dengannya di sebuah koran beberapa tahun silam. namanya saya lupa. juga korannya). Bayangkan. Sekian puluh tahun dipendam di Pulau Buru, dalam usia yang sudah sepuh, tapi logikanya masih tajam surajam dan runtut.
Di sisi lain, jangan dilupakan bahwa perempuan (Indonesia?) itu susah sekali disuruh bersatu. Dua pemilu lalu, saya membantu seorang perempuan untuk nyaleg di kabupaten Bogor sebagai penasehat politiknya. Peta politik di sana saat itu jelas bagi saya. Tidak mungkin si caleg perempuan ini akan bisa bersaing. Maka saya luncurkan konsep untuk membuat koalisi caleg perempuan lintas partai yang saya namai Wali Perempuan Indonesia. Alasannya, di dalam partai sendiri caleg perempuan mendapat tekanan untuk tidak semenonjol sejawatnya yang pria. Respon kehadiran atas undangan ini lumayan. Mayoritas partai peserta pemilu hadir. Harapan saya adalah minimal bisa dilakukan kampanye bersama antar caleg perempuan lintas partai ini. Namun apa yang kemudian terjadi?
Tidak jalan. Sebagaimana juga Kaukus Perempuan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, sehari setelah pertemuan perdana itu, muncul berita bahwa telah didirikan gerakan semacam di Sulawesi, Jawa Tengah, Cianjur, dll. Dari apa yang saya baca di media, konsep mereka 95 persen identik dengan yang saya buat. Siapa lagi yang membocorkan kalau bukan para caleg itu sendiri? Lha yang pria cuma saya sendiri di pertemuan tersebut. Langkah copycat yang terjadi di beberapa wilayah tersebut justru kontra produktif kalau tidak bisa dibilang penggembosan.
Dalam situasi seperti sekarang dimana masing-masing dituntut untuk kampanye habis-habisan karena pemberlakuan ketentuan suara terbanyak, caleg perempuan akan lebih sulit meraih suara. Organisasi perempuan yang solid itu ada berapa sih, selain jama’ah pengajian ibu-ibu dan PKK –yang sudah tak terdengar lagi suaranya? Maka jangan melihat pada statistik bahwa jumlah pemilih perempuan lebih besar dari pria. Khofifah yang jelas punya massa jamaah pengajian perempuan yang solid di Jawa Timur toh kalah tipis dari Sukarwo dan Syaifullah Yusuf. Bagaimana pula di tingkat nasional?
Kesadaran akan pentingnya peran perempuan di Indonesia sesungguhnya hanya ada di kota-kota besar dan ada di kalangan terdidik. Jawa Timur sebagaimana saya sitir di atas adalah suatu kasus yang berbeda karena bersifat tradisional. Dengan demikian afirmasi caleg perempuan yang sedang diperdebatkan sekarang tak lebih dari penggembosan isu perempuan. Saya berharap para caleg perempuan tidak tergiur oleh iming-iming prosentase tersebut. Lebih baik periode ini dipakai sebagai suatu pembelajaran atas realitas politik agar di pemilu berikutnya ada perubahan yang signifikan. Yang sangat penting saya kira adalah membuat kantong-kantong pemberdayaan perempuan sebanyak mungkin.
Perlu juga kiranya mempelajari sejarah perempuan di Indonesia atau bahkan dunia. Jangan cuma tahu Kartini saja. Kartini pun bagi saya hanya simbolisasi yang dibuat kaum kami (he he..) untuk menyenangkan perempuan. Di Sumatera Barat yang menganut matriarchaat juga tidak lagi memunculkan tokoh-tokoh perempuan. Perempuan cuma simbol belaka, pemegang stempel saja. Kekuasaan de facto tetap di tangan ninik mamak yang notabene pria. Jadi waspadalah. Karena blog ini juga diakses pria maka mereka (eh..kami) juga akan lebih mengantisipasi langkah kalian.
Terngiang sayup-sayup di kepala saya alunan musik blues, an oldie goodie song,
It’s a man’s world
But it will be nothing
Nothing..
Without a woman or a girl.
copyleft umar syaifullah 2009
Januari 22nd, 2009 — global, politik Tagged obama, pelantikan, pidato
Apa yang bisa kita cermati dari pelantikan terpilihnya Barack Hussein Obama sebagai Presiden ke 44 Amerika Serikat, Selasa (12/1/09) waktu setempat? Kiranya seluruh penjuru bumi yang menyoroti peristiwa tersebut sepakat bahwa beban yang amat sangat berat harus dipikul oleh seorang laki-laki ceking berkulit hitam ini. Bukan hanya beban dalam negerinya yang sedang terpuruk akibat krisis keuangan global, namun juga berbagai persoalan dunia yang mau tidak mau harus bermula dari Washington DC.
Banyak masyarakat Amerika terutama yang sudah berkorban dengan berdiri berjam-jam –bahkan berkemah- di udara dingin yang mencapai 0 derajat Celcius, terlihat kecewa atas pidato Obama. Di momen yang disepakati sebagai saat bersejarah bagi bangsa Amerika, mereka mengharapkan suasana yang emosional, mengharukan sekaligus mengobarkan semangat menghadapi situasi yang sedang memburuk ini. Mereka berharap bisa pulang dan punya cerita yang akan dikenang hingga cicit, canggah, wareng, hingga udeg-udeg. Ternyata mereka harus pulang nyaris dengan tangan kosong. Seolah peristiwa ini merupakan antiklimaks yang puncaknya telah terjadi saat pengumuman pemenang awal November lalu.
Pertanda buruk sudah terlihat ketika Joe Biden tersendat dalam mengucapkan ucapan sumpah sebagai Wapres. Luarbiasa ketika Obama pun dua kali tersendat. Yang pertama adalah memotong frase pertama sumpah yang belum selesai diucapkan John Roberts, Ketua Mahkamah Agung Amerika. Yang kedua beberapa detik tak mampu melanjutkan frase sumpah hingga John Roberts mengulanginya.
Pidato pertama selaku Presiden yang ditunggu-tunggu oleh dua juta orang yang berdiri dalam udara dingin menggigit menjadi antiklimaks. Rakyat Amerika yang menunggu kalimat-kalimat yang menyentuh emosi ataupun yang mengobarkan semangat terlihat menunjukkan wajah kecewa. Obama lebih mementingkan untuk berbicara pada berbagai pihak yang menunggu pernyataan-pernyataan yang bersifat kebijakan umum. Antara lain Obama bicara tentang pendidikan dan kesehatan bagi rakyat, perbaikan ekonomi dalam negeri.
Hanya ada dua hal yang lumayan memancing applaus –meski banyak yang ogah-ogahan. Pertama, ketika Obama bermaksud membangun semangat kerja keras rakyatnya dengan memuji bahwa etos kerja, kreativitas, maupun produktivitas bangsa Amerika tetap tinggi meski diterpa badai krisis. Kedua, ia menyatakan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dengan menunjuk dirinya yang terpilih sebagai Presiden sebagai contoh.
Yang patut dikutip dari keseluruhan pidato tersebut adalah bahwa di bawah pemerintahannya, Amerika akan menjadi kawan bagi semua pihak. Inilah yang terjadi jika menghadapi harapan yang terlalu besar bagi seorang Obama.
Agak mundur dari pelantikan, Tim Obama menuai sukses melalui kesepakatan dengan Israel terkait dengan kunjungan Obama ke Israel beberapa waktu lalu. Di sana Obama mengatakan bahwa jika rumahnya diroket orang lain, tentu dia juga tidak tinggal diam. Pernyataan ini yang menjadi landasan bagi Israel untuk menggempur Gazah. Namun yang tidak muncul dalam kebanyakan pemberitaan adalah sebagai imbalan atas dukungan itu, Israel harus mundur dari Gazah saat pelantikan Obama. Penarikan mundur ini memberi kesan di seluruh dunia bahwa Obama mampu mempengaruhi Israel. Tak heran jika harapan terhadap Obama jadi melambung tinggi.
Kembali pada “pertanda”, Obama dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 44. 44 dalam aksara Cina berbunyi Si Si, yang artinya Mati Mati.
copyleft umar syaifullah 2009
Januari 22nd, 2009 — bbm, pelayanan publik, politik Tagged pertamina, plumpang, sby, teror
Kembali rakyat kecil jadi korban. Tangki depo BBM Pertamina no 24 di Pumpang, Jakarta Utara yang berisi 5000 kl premium meledak. Bohong besar jika hal ini takkan berpengaruh terhadap pasokan Premium 5000 kl sudah jelas lenyap. Belum lagi pelayanan distribusi yang harus tertunda minimal seminggu.
Yang menarik adalah peristiwa ini terjadi hanya 2-3 hari setelah munculnya iklan Partai Demokrat yang memuji-muji SBY karena 3 kali menurunkan harga BBM. “Pertama kali dalam sejarah”, katanya. Padahal ketiga kali penurunan ini belum mencapai harga semula yaitu Rp. 4500,- perliter Premium. Pun biaya transportasi umum juga tidak mau turun. Jelas harga sembako tetap tinggi.
Secara pribadi saya yakin SBY baik-baik saja. Namun sebagaimana pemimpin di manapun, there’s always be The President’s Men around. Narsis banget iklan macam begitu. Gak penting banget deh muji-muji diri sendiri kayak gitu. Hal ini yang mengganggu benak saya. Iklan ini justru kontraproduktif bagi SBY. Bisa jadi backfire, meminjam istilah kebakaran.
Apakah ini juga berkait dengan teguran keras SBY pada Pertamina atas kelalaiannya merespon pelayanan publik terkait kelangkaan BBM? Kita ingat meski telah dimarahi, Pertamina masih ngeyel mengatakan kelambatan terjadi akibat distribusi dan penerapan sistem online yang baru. Pernyataan Pertamina ini senada dengan arogansi Organda DKI yang keukeuh tak mau menurunkan tarif angkutan meski harga BBM sudah turun 3 kali.
Terlalu transparan bagi rakyat, kedua instansi ini sangat mengutamakan kepentingan diri dan kelompok mereka daripada amanat penderitaan rakyat. Apa bedanya mereka dengan Israel yang membunuhi anak-anak Palestina demi mencapai tujuan mereka yaitu meredam serangan Hamas?
Kita masih ingat, POLRI pernah memperingatkan untuk meningkatkan keamanan di depo Plumpang November tahun lalu terkait dengan penangkapan atas tersangka teroris di wilayah Plumpang. Kita juga tidak pernah mendengar tindak lanjut atas tersangka teroris tersebut. Adakah intelijen POLRI sudah mencium adanya rencana peledakan depo Plumpang? Ataukah skenario ini sudah disiapkan sebelumnya sehingga ada pembenaran untuk menunjukkan masih aktifnya terorisme di wilayah NKRI, khususnya di ibukota negara Jakarta? Jika memang benar teroris yang melakukan ini, berarti aparat keamanan wa bil khusus intelijen POLRI sudah kecolongan.
Jika merujuk lagi pada demo Paspampres beberapa hari lalu, adakah bisa ditarik kesimpulan adanya indikasi pihak-pihak tertentu untuk mendiskreditkan SBY? Mungkinkah mereka yang disikat oleh SBY melalui KPK melakukan aksi pembalasan?
Jika benar, maka pelaku-pelaku korupsi yang “bernyanyi” agaknya sengaja menunjukkan bahwa korupsi telah mengakar sedemikian kuat di seluruh jajaran pemerintah, dari atas hingga ke bawah.
Apapun yang sesungguhnya terjadi, sesungguhnya teror telah masuk ke nyaris seluruh rumah tangga melalui pemberitaan di televisi. Bahwa demo anarkis di mana-mana, kekerasan di mana-mana, makanan dan bahan makanan palsu, beracun, berbahaya, haram, dlsb. Politik pecah belah melalui perdebatan di depan publik. Rakyat kecil tertekan, terganggu oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan hak asasi, agama, dll demi keuntungan dan kekuasaan. Kemanusiaan yang adil dan beradab, dan keTuhanan Yang Maha Esa telah dirampok dan dinistakan habis-habisan. Tak ada lagi yang bisa kita lakukan kecuali berdoa dan banyak mengucapkan kalimat tauhid.
copyleft umar syaifullah 2009